MAKALAH
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
“PEMBAKARAN JERAMI YANG MENYEBABKAN POLUSI UDARA”
Disusun
Oleh
Achmad
Fajri Nur Khakim (4001413023)
IPA
TERPADU
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN IMU PENGETAHUAN ALAM
Mata
Kuliah : Pendidikan Lingkungan Hidup
Dosen
: Miranita Khusniati
KATA PENGANTAR
Puji syukur
saya haturkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya saya dapat
menyelesaiakan makalah yang berjudul “pemanfaatan limbah jerami”.
Tidak lupa
kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam
terselesaikannya makalah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada
teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Tentunya ada
hal-hal yang ingin saya berikan kepada masyarakat dari hasil makalah ini.
Karena itu saya berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang
berguna bagi kita bersama.
Penulis
menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan,
untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini bisa
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Semarang , 12 Mei 2014
Penyusun
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat
ini pencemaran udara memang sudah menjadi masalah yang serius karena dampaknya
yang ditimbulkan dapat menyebabkan kerusakan alam yang pada akhirnya merugikan
manusia sendiri. Di kota besar pencemaran udara merupakan masalah yang sudah
biasa karena sangat banyak faktor yang dapat menyebabkannya seperti asap
industri yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik, gas-gas yang dikeluarkan oleh
berbagai macam kendaraan, dan pembakaran sampah-sampah rumah tangga.
Dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran udara tidak hanya berakibat
pada manusia saja tetapi ekosistem dimana terjadi pencemaran udara juga akan
terkena dampaknya. Dampak umum yang terjadi adalah suhu di lingkungan tersebut
yang bertambah panas, sinar matahari menjadi terkena partikel-partikel yang
berbahaya dari polusi udara sehingga ketika sinar matahari sampai kepada
manusia dapat menyebabkan penyakit, dan juga daur dari berbagai unsur atau gas
yang bermanfaat bagi makhluk hidup akan terganggu, seperti oksigen dan
nitrogen.
Masalah
ini, yaitu pencemaran udara tidak hanya terdapat di kota besar tetapi juga
mulai terjadi di desa-desa. Di desa penulis, yaitu di desa Bejiruyung,
kecamatan Sempor, kabupaten Kebumen
sudah mulai terdapat pencemaran udara. Di desa bejiruyung sendiri terdapat
suatu masalah yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara tersebut yag akan
dibahas pada makalah ini.
Kita seharusnya tidak hanya berdiam diri dengan permasalahan
lingkungan disekitar kita atau hanya menuggu upaya dari pemerintah untuk
mengatasinya, kita seharusnya menjadi pionir dalam menyelesaikan permasalahan
ingkungan disekitar kita. Walaupun pada awalnya tidak ada yang mendukung kita
dalam upaya yang kita lakukan, kita harus semakin semangat dalam berusaha
melakukannya, kita harus buktikan bahwa apa yang kita lakukan akan berbuah
hasil yang bermanfaat dalam kebaikan sesama. Ketika apa yang kita lakukan telah
ada hasilnya, lama-kelamaan akan banyak yang mendukung upaya kita bahkan
pemerintah akan memberikan bantuannya untuk memfasilitasi apa yang kita
perlukan dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan, dan penulis juga yakin
akan ada jalan jalan keluar dari setiap permasalahan jika kita mau berusaha
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah
sebagai berikut:
- Apa permasalahan lingkungan yang ada di desa Bejiruyung?
- Apa yang menyebabkan permasalahan tersebut teerjadi di desa Bejiruyung?
- Bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut
1.1 Tujuan
Pembutan
makalah ini memiliki tujuan untuk:
- Mengetahui permasalahan yang terjadi di desa Bejuruyung.
- Memberikan informasi tentang apa yang menyebabkan terjadinya permasalahan di desa Bejiruyung.
- Mengetahui solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di desa Bejiruyung.
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan
Lingkungan di Desa Bejiruyung
Desa
Bejiruyung merupakan desa yang memiliki persawahan yang cukup luas sehingga
sebagaian penduduk disini berprofesi sebagai petani. Hasil dari persawahan ini
sudah sangat baik, artinya penduduk di desa Bejiruyung tidak ada yang mengalami
kekurangan dalam hal pangan karena sumber penghasilan penduduk adalah
persawahan itu sendiri. Yang menjadi permasalahannya yaitu petani kurang bisa
memanfaatkan atau mengolah hasil limbah dari pengolahan sawah tersebut, yaitu
limbah jerami yang hanya dikumpulkan dan pada akhirnya hanya dibakar. Mungkin
ketika pembakaran tersebut hanya dilakukan oleh satu atau dua petak sawah saja
tidak menyebabkan pencemaran udara, tetapi yang terjadi adalah banyak petani
yang melakukannya sehingga sangat berpotensi menyebabkan pencemaran udara.
Para petani hanya membakar limbah jerami dari hasil panennya,
sebenarnya karena mereka memikirkan cara yang cepat dan mudah dilakukan untuk
segera membersihkan limbah tersebut, dan cara yang mereka lakukan yaitu dengan
membakarnya. Para petani juga berpikir ketika limbah jerami telah dibakar maka
akan dihasilkan abu yang nantinya juga bisa digunakan menjadi pupuk. Hal yang
para petani lakukan tersebut sebenarnya tidak salah ketika acuannya dari cepat
tidaknya membersihkan limbah, ditambah hal yang dilakukan itu juga didapatkan
atau melihat dari orang tua mereka sebelumnya. Menurut penulis apa yang para
petani lakukan tersebut adalah karena kurangnya pengetahuan tentang dampak atau
akibat jika dilakukan pembakaran jerami, mungkin jika mereka tahu bahwa
pembakaran limbah jerami dapat menyebabkan polusi udara, mengurangi kandungan
unsur dalam tanah yang bermanfaat bagi kesuburuan tanah mereka akan berpikir
ulang jika akan melakukannya. Ditambah lagi jika para petani mengetahui bahwa
limbah jerami dapat dimanfaatkan dengan cara lain yang nantinya akan
menguntungkan petani itu sendiri, seperti dibuat kompos untuk pakan ternak
sehingga ternak mereka semakin sehat karena kandungan nutrisi dari limbah
jerami yang telah dibuat kompos sangat tinggi, tentunya petani juga akan
meninggalkan kebiasaan mereka yaitu membakar limbah jerami.
Polusi udara adalah
kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer
dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup, mengganggu
estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Polusi udara adalah masuknya,
atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat
mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia
secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Polusi udara terbagi menjadi
dua, yaitu polusi primer dan polusi sekunder. Polusi primer adalah polusi yang
di timbulkan langsung dari sumber Polusi udara, sedangkan polusi sekunder
adalah polusi yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer.
(Haryanto 2010)
2.2 Penyebab permasalahan lingkungan di Desa
Bejiruyung
Penyebab terjadinya polusi udara di desa
Bejiruyung adalah pembakaran limbah jerami dalam lingkup yang cukup luas.
Pembakaran jerami tersebut jika hanya dalam lingkup yang kecil mungkin tidak
menyebabkan polusi udara, tetapi di desa bejiruyung sendiri areal persawahannya
cukup luas, jadi apabila kebanyakan petani hanya membakar limbah jerami
saja dan tidak dimanfaatkan untuk yang
lain kemungkinan besar akan menyebabkan terjadinya polusi udara. Ada
kekurangan yang ditimbulkan dari pembakaran jerami. Kekurangan itu adalah:
1.
Pembakaran jerami bisa merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah
Ketika
jerami dibakar, maka tanah menjadi kering, padat dan sebagian unsur hara yang
ada pada tanah juga ikut rusak. Selain itu, mikrobia yang berfungsi untuk
merombak bahan organik dalam tanah juga ikut mati. Bukan hanya mikrobia diatas permukaan
tanah, namun juga sampai beberapa meter dibawah permukaan tanah. Kerusakan pada
sifat fisik tanah mengakibatkan mikrobia sulit tumbuh pada tanah tersebut
sehingga perombakan bahan organik tanah berjalan lambat.
2.
Tidak melulu memutus siklus hidup hama
Dalam
beberapa kasus, sebut saja pada pertanian kedelai, pembakaran jerami sawah bisa
memperbesar kemungkinan tanaman kedelai terserang lalat bibit. Hal tersebut
karena biasanya lahan sawah tidak terus-menerus ditanami dengan tanaman padi.
Nah, ini dia keuntungannya. Jika tanah sawah ditanami dengan padi berselang
palawija, maka siklus hidup hama pada tanaman ini bisa diputus. Jadi, tidak
harus membakar jerami. (Putri 2014)
Untuk jangka panjang pembakaran jerami tetap akan sangat
merugikan kita sendiri. Ada beberapa kerugian jika kita membakar jerami padi,
yaitu
- Dengan membakar jerami padi kita berarti telah membakar unsur hara yang terkandung dalam jerami tersebut. Sayang sekali unsur hara yang seharusnya bisa menambahkan kesuburan tanah kita hanya kita buang sia-sia.
- Batang dan daun padi yang bisa menyuburkan tanah secara fisika (jika membusuk akan menjadi humus, bahan organik atau C-organik) hanya akan terbakar menjadi karbon atau arang.
- Jerami padi yang jika kita tanamkan ketanah akan menjadi makanan mikroorganisme tanah jika kita bakar justru akan membunuh mikroorganisme dipermukaan tanah.
- Secara perlahan namun pasti pembakaran jerami akan menurunkan produktifitas tanah kita sehingga panen kita semakin hari akan semakin menurun.
- Sebenarnya pembakaran jerami padi adalah pemborosan bagi kita kaum petani. Karena jika kita mau mengembalikan jerami padi kesawah tentunya pemupukan akan bisa kita kurangi, namun jika kita bakar kita akan memerlukan biaya pupuk lebih banyak.
- Asap yang dihasilkan dari pembakaran jerami akan mengakibatkan polusi/ pencemaran udara dan sekaligus juga akan merusak ozon pelindung bumi.
- Pengembalian jerami padi kesawah akan mengembalikan unsur hara Kalium ke tanah. Unsur kalium ini berfungsi sebagai penguat dan pengeras bagian tanaman yang akan membantu ketahanan tanaman dari serangan hama dan penyakit. Jika kita bakar terus-menerus tanpa penambahan unsur hara K ketanah akan menyebabkan tanaman padi kita rentan terserang hama dan penyakit.(Maspary 2011)
2.2 Solusi Untuk Mengatasi
Permasalahan di Desa Bejiruyung
Solusi
yang pernah dilakukan agar tidak terjadi polusi udara adalah dengan
memanfaatkan limbah jerami sebagai pakan ternak sehingga jerami tidak dibakar,
yang bias menyebabkan polusi udara. Manfaat Jerami Padi sebagai
pakan ternak selain
dapat di gunakan sebagai pupuk, ternyata jerami padi dapat di gunakan sebagai
pakan ternak sapi baik di sajikan secara langsung maupun di olah terlebih
dahulu, jika ingin mempunyai manfaat yang lebih buat sapi tentunya harus di olah terlebih dahulu.Sebenar
nya jika jerami padi di sajikan secara langsung itu memiliki beberapa kelemahan
tersendiri seperti : kadar serat nya tinggi atau kasar, kadar protein dan
mineral nya lemah atau kurang, silika dan lignin nya tinggi, dan kecernaannya
tinggi, namun lain lagi jika jerami padi ini di olah terlebih dahulu tentu nya
akan menjadikan jerami padi ini lebih berkualitas.
Solusi
yang ditawarkan penulis adalah menjadikan jerami sebagai tempat budidaya jamur.
Di desa bejiruyung sendiri kebanyakan pengolahan selain dibakar hanya digunakan
sebagai pakan ternak dan belum ada yang menggunakannya sebagai budidaya jamur.
Jika hal ini berhasil ada manfaat lain yang didapatkan yaitu bisa meningkatkan
kesejahteraan penduduk desa bejiruyung sendiri.
Budidaya
jamur merang butuh ketepatan dan kejelian saat mengolah bahan-bahan dasar media
tumbuh jamur itu sendiri, pengolahan media tumbuh tidak semata-mata
mencampurkan bahan-bahan yg sering di gunakan petani jamur merang, pencampuran
bahan butuh waktu-waktu tertentu dan memakan proses yang lumayan panjang tapi itu menentukan kualitas media
tumbuh jamur yg akan kita budidayakan, semakin baik media tanam semakin bagus
tingkat produksi jamur merang itu sendiri tapi kita juga harus benar-benar
menjaga suhu yang ada di ruangan tersebut. (Haerudin 2013)
Pemanfaat limbah jerami padi untuk media tumbuh jamur tiram cukup
mudah yaitu sebagi berikut :
Jerami terlebih dahulu di cacah 2-3 cm, kemudian di masukan dalam
karung dan direndam dalam air. Selanjutnya karung di tiriskan dan dimasukan
kedalam kantong plastic pp tahan panas berukuran 20-30 cm sampai cukup padat
sehingga beratnya sekitar 1000 gr. Kantong plastic berisi substat tanaman di
tegakan dengan bagian kantong palatis yang terbuka menghadap keatas. Kemudian media
bibit semai di biarkan selama 24 jam dalam keadaan mulut media bibit semai
terbuka. Setelah itu kantong plastic di pasangi cincin yang terbuat dari pipa
paralon berdiameter 2,5 cm dan di tutup dengan potongan kapas, diikat dengan
karet gelang sehingga menjadi media semai jamur tiram. Media semai jamur di
steralisasi di dalam drum pengukus selama 8 jam, kemudian di dinginkan selama
24 jam. Media semai jamur tiram di inokulasi secara asaptis dengan memasukan
jamur sebanyak tidak sendok, kemduan media jamur tiram di tutup dengan kapas
dan plastic kecil yang sudah di beri ring. Media semai jamur tiram yang
sudah di inokulasi kemudia di inkubasi selama 20-25 hari sengan suhu 22-28˚
C. Jika seluruh permukaan media semai jamur tiram sudah rata ditumbuhi
dengan meselium maka di lakukan pemeliharaan di rumah jamur. Panen badan
jamur di lakukan 3-4 hari setelah munculnya tunas. Hasil berat panen per media
semai jamur tiram 80-90 gr. (Syambayu
2013)
BAB 3
PENUTUP
1.1 Simpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat diambil
beberapa simpulan yaitu:
- Permasalahan lingkungan yang terjadi di desa Bejiruyung adalah polusi udara.
- Penyebab terjadinya permasalahan lingkungan di desa Bejiruyung adalah limbah jerami yang diolah secara dibakar.
- Solusi yang pernah dilakukan adalah dengan memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak dan tempat budidaya jamur
1.1 Saran
Sebaiknya
limbah jerami dimanfaatkan secara maksimal karena memiliki potensi yang cukup
besar, jangan hanya berpikir secara pendek agar limbah jerami cepat hilang
sehingga dilakukan berbagai cara yang tidak diperkenakan seperti melakukan
pembakaran terhadap limbah jerami yang akhirnya memberi dampak yang tidak baik
kepada lingkungan. Polusi udara kemungkinan dapat dikurangi jika tidak
dilakukan pembakaran limbah jerami tetapi dengan mengolah jerami tersebut
sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA