Friday, June 29, 2018

PEMBAKARAN JERAMI YANG MENYEBABKAN POLUSI UDARA


MAKALAH
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PEMBAKARAN JERAMI YANG MENYEBABKAN POLUSI UDARA


Disusun Oleh
Achmad Fajri Nur Khakim (4001413023)










IPA TERPADU
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IMU PENGETAHUAN ALAM
Mata Kuliah : Pendidikan Lingkungan Hidup
Dosen : Miranita Khusniati






KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya saya dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul “pemanfaatan limbah jerami”.

Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam terselesaikannya makalah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini.

Tentunya ada hal-hal yang ingin saya berikan kepada masyarakat dari hasil makalah ini. Karena itu saya berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.




Semarang ,  12 Mei 2014


Penyusun





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Saat ini pencemaran udara memang sudah menjadi masalah yang serius karena dampaknya yang ditimbulkan dapat menyebabkan kerusakan alam yang pada akhirnya merugikan manusia sendiri. Di kota besar pencemaran udara merupakan masalah yang sudah biasa karena sangat banyak faktor yang dapat menyebabkannya seperti asap industri yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik, gas-gas yang dikeluarkan oleh berbagai macam kendaraan, dan pembakaran sampah-sampah rumah tangga.

Dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran udara tidak hanya berakibat pada manusia saja tetapi ekosistem dimana terjadi pencemaran udara juga akan terkena dampaknya. Dampak umum yang terjadi adalah suhu di lingkungan tersebut yang bertambah panas, sinar matahari menjadi terkena partikel-partikel yang berbahaya dari polusi udara sehingga ketika sinar matahari sampai kepada manusia dapat menyebabkan penyakit, dan juga daur dari berbagai unsur atau gas yang bermanfaat bagi makhluk hidup akan terganggu, seperti oksigen dan nitrogen.

Masalah ini, yaitu pencemaran udara tidak hanya terdapat di kota besar tetapi juga mulai terjadi di desa-desa. Di desa penulis, yaitu di desa Bejiruyung, kecamatan Sempor, kabupaten Kebumen  sudah mulai terdapat pencemaran udara. Di desa bejiruyung sendiri terdapat suatu masalah yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara tersebut yag akan dibahas pada makalah ini.

Kita seharusnya tidak hanya berdiam diri dengan permasalahan lingkungan disekitar kita atau hanya menuggu upaya dari pemerintah untuk mengatasinya, kita seharusnya menjadi pionir dalam menyelesaikan permasalahan ingkungan disekitar kita. Walaupun pada awalnya tidak ada yang mendukung kita dalam upaya yang kita lakukan, kita harus semakin semangat dalam berusaha melakukannya, kita harus buktikan bahwa apa yang kita lakukan akan berbuah hasil yang bermanfaat dalam kebaikan sesama. Ketika apa yang kita lakukan telah ada hasilnya, lama-kelamaan akan banyak yang mendukung upaya kita bahkan pemerintah akan memberikan bantuannya untuk memfasilitasi apa yang kita perlukan dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan, dan penulis juga yakin akan ada jalan jalan keluar dari setiap permasalahan jika kita mau berusaha

1.1  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Apa permasalahan lingkungan yang ada di desa Bejiruyung?
  2. Apa yang menyebabkan permasalahan tersebut teerjadi di desa Bejiruyung?
  3. Bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut

1.1  Tujuan
Pembutan makalah ini memiliki tujuan untuk:
  1. Mengetahui permasalahan yang terjadi di desa Bejuruyung.
  2. Memberikan informasi tentang apa yang menyebabkan terjadinya permasalahan di desa Bejiruyung.
  3. Mengetahui solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di desa Bejiruyung.



BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Lingkungan di Desa Bejiruyung
Desa Bejiruyung merupakan desa yang memiliki persawahan yang cukup luas sehingga sebagaian penduduk disini berprofesi sebagai petani. Hasil dari persawahan ini sudah sangat baik, artinya penduduk di desa Bejiruyung tidak ada yang mengalami kekurangan dalam hal pangan karena sumber penghasilan penduduk adalah persawahan itu sendiri. Yang menjadi permasalahannya yaitu petani kurang bisa memanfaatkan atau mengolah hasil limbah dari pengolahan sawah tersebut, yaitu limbah jerami yang hanya dikumpulkan dan pada akhirnya hanya dibakar. Mungkin ketika pembakaran tersebut hanya dilakukan oleh satu atau dua petak sawah saja tidak menyebabkan pencemaran udara, tetapi yang terjadi adalah banyak petani yang melakukannya sehingga sangat berpotensi menyebabkan pencemaran udara.

Para petani hanya membakar limbah jerami dari hasil panennya, sebenarnya karena mereka memikirkan cara yang cepat dan mudah dilakukan untuk segera membersihkan limbah tersebut, dan cara yang mereka lakukan yaitu dengan membakarnya. Para petani juga berpikir ketika limbah jerami telah dibakar maka akan dihasilkan abu yang nantinya juga bisa digunakan menjadi pupuk. Hal yang para petani lakukan tersebut sebenarnya tidak salah ketika acuannya dari cepat tidaknya membersihkan limbah, ditambah hal yang dilakukan itu juga didapatkan atau melihat dari orang tua mereka sebelumnya. Menurut penulis apa yang para petani lakukan tersebut adalah karena kurangnya pengetahuan tentang dampak atau akibat jika dilakukan pembakaran jerami, mungkin jika mereka tahu bahwa pembakaran limbah jerami dapat menyebabkan polusi udara, mengurangi kandungan unsur dalam tanah yang bermanfaat bagi kesuburuan tanah mereka akan berpikir ulang jika akan melakukannya. Ditambah lagi jika para petani mengetahui bahwa limbah jerami dapat dimanfaatkan dengan cara lain yang nantinya akan menguntungkan petani itu sendiri, seperti dibuat kompos untuk pakan ternak sehingga ternak mereka semakin sehat karena kandungan nutrisi dari limbah jerami yang telah dibuat kompos sangat tinggi, tentunya petani juga akan meninggalkan kebiasaan mereka yaitu membakar limbah jerami.

Polusi udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Polusi udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Polusi udara terbagi menjadi dua, yaitu polusi primer dan polusi sekunder. Polusi primer adalah polusi yang di timbulkan langsung dari sumber Polusi udara, sedangkan polusi sekunder adalah polusi yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. (Haryanto 2010)

2.2  Penyebab permasalahan lingkungan di Desa Bejiruyung
Penyebab terjadinya polusi udara di desa Bejiruyung adalah pembakaran limbah jerami dalam lingkup yang cukup luas. Pembakaran jerami tersebut jika hanya dalam lingkup yang kecil mungkin tidak menyebabkan polusi udara, tetapi di desa bejiruyung sendiri areal persawahannya cukup luas, jadi apabila kebanyakan petani hanya membakar limbah jerami saja  dan tidak dimanfaatkan untuk yang lain kemungkinan besar akan menyebabkan terjadinya polusi udara. Ada kekurangan yang ditimbulkan dari pembakaran jerami. Kekurangan itu adalah:

1. Pembakaran jerami bisa merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah
Ketika jerami dibakar, maka tanah menjadi kering, padat dan sebagian unsur hara yang ada pada tanah juga ikut rusak. Selain itu, mikrobia yang berfungsi untuk merombak bahan organik dalam tanah juga ikut mati. Bukan hanya mikrobia diatas permukaan tanah, namun juga sampai beberapa meter dibawah permukaan tanah. Kerusakan pada sifat fisik tanah mengakibatkan mikrobia sulit tumbuh pada tanah tersebut sehingga perombakan bahan organik tanah berjalan lambat.

2. Tidak melulu memutus siklus hidup hama
Dalam beberapa kasus, sebut saja pada pertanian kedelai, pembakaran jerami sawah bisa memperbesar kemungkinan tanaman kedelai terserang lalat bibit. Hal tersebut karena biasanya lahan sawah tidak terus-menerus ditanami dengan tanaman padi. Nah, ini dia keuntungannya. Jika tanah sawah ditanami dengan padi berselang palawija, maka siklus hidup hama pada tanaman ini bisa diputus. Jadi, tidak harus membakar jerami. (Putri 2014)

Untuk jangka panjang pembakaran jerami tetap  akan sangat merugikan kita sendiri. Ada beberapa kerugian jika kita membakar jerami padi, yaitu

  1. Dengan membakar jerami padi kita berarti telah membakar unsur hara yang terkandung dalam jerami tersebut. Sayang sekali unsur hara yang seharusnya bisa menambahkan kesuburan tanah kita hanya kita buang sia-sia.
  2. Batang dan daun padi yang bisa menyuburkan tanah secara fisika (jika membusuk akan menjadi humus, bahan organik atau C-organik) hanya akan terbakar menjadi karbon atau arang.
  3. Jerami padi yang jika kita tanamkan ketanah akan menjadi makanan mikroorganisme tanah jika kita bakar justru akan membunuh mikroorganisme dipermukaan tanah.
  4. Secara perlahan namun pasti pembakaran jerami akan menurunkan produktifitas tanah kita sehingga panen kita semakin hari akan semakin menurun.
  5. Sebenarnya pembakaran jerami padi adalah pemborosan bagi kita kaum petani. Karena jika kita mau mengembalikan jerami padi kesawah tentunya pemupukan akan bisa kita kurangi, namun jika kita bakar kita akan memerlukan biaya pupuk lebih banyak.
  6. Asap yang dihasilkan dari pembakaran jerami akan mengakibatkan polusi/ pencemaran udara dan sekaligus juga akan merusak ozon pelindung bumi.
  7. Pengembalian jerami padi kesawah akan mengembalikan unsur hara Kalium ke tanah.  Unsur kalium ini berfungsi sebagai penguat dan pengeras bagian tanaman yang akan membantu ketahanan tanaman dari serangan hama dan penyakit. Jika kita bakar terus-menerus tanpa penambahan unsur hara K ketanah akan menyebabkan tanaman padi kita rentan terserang hama dan penyakit.(Maspary 2011)


2.2 Solusi Untuk Mengatasi Permasalahan di Desa Bejiruyung
Solusi yang pernah dilakukan agar tidak terjadi polusi udara adalah dengan memanfaatkan limbah jerami sebagai pakan ternak sehingga jerami tidak dibakar, yang bias menyebabkan polusi udara. Manfaat Jerami Padi sebagai pakan ternak selain dapat di gunakan sebagai pupuk, ternyata jerami padi dapat di gunakan sebagai pakan ternak sapi baik di sajikan secara langsung maupun di olah terlebih dahulu, jika ingin mempunyai manfaat yang lebih buat sapi tentunya harus di olah terlebih dahulu.Sebenar nya jika jerami padi di sajikan secara langsung itu memiliki beberapa kelemahan tersendiri seperti : kadar serat nya tinggi atau kasar, kadar protein dan mineral nya lemah atau kurang, silika dan lignin nya tinggi, dan kecernaannya tinggi, namun lain lagi jika jerami padi ini di olah terlebih dahulu tentu nya akan menjadikan jerami padi ini lebih berkualitas.

Solusi yang ditawarkan penulis adalah menjadikan jerami sebagai tempat budidaya jamur. Di desa bejiruyung sendiri kebanyakan pengolahan selain dibakar hanya digunakan sebagai pakan ternak dan belum ada yang menggunakannya sebagai budidaya jamur. Jika hal ini berhasil ada manfaat lain yang didapatkan yaitu bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk desa bejiruyung sendiri.

Budidaya jamur merang butuh ketepatan dan kejelian saat mengolah bahan-bahan dasar media tumbuh jamur itu sendiri, pengolahan media tumbuh tidak semata-mata mencampurkan bahan-bahan yg sering di gunakan petani jamur merang, pencampuran bahan butuh waktu-waktu tertentu dan memakan proses yang lumayan  panjang tapi itu menentukan kualitas media tumbuh jamur yg akan kita budidayakan, semakin baik media tanam semakin bagus tingkat produksi jamur merang itu sendiri tapi kita juga harus benar-benar menjaga suhu yang ada di ruangan tersebut. (Haerudin 2013)

Pemanfaat limbah jerami padi untuk media tumbuh jamur tiram cukup mudah yaitu sebagi berikut :

Jerami terlebih dahulu di cacah 2-3 cm, kemudian di masukan dalam karung dan direndam dalam air. Selanjutnya karung di tiriskan dan dimasukan kedalam kantong plastic pp tahan panas berukuran 20-30 cm sampai cukup padat sehingga beratnya sekitar 1000 gr. Kantong plastic berisi substat tanaman di tegakan dengan bagian kantong palatis yang terbuka menghadap keatas. Kemudian media bibit semai di biarkan selama 24 jam dalam keadaan mulut media bibit semai terbuka. Setelah itu kantong plastic di pasangi cincin yang terbuat dari pipa paralon berdiameter 2,5 cm dan di tutup dengan potongan kapas, diikat dengan karet gelang sehingga menjadi media semai jamur tiram. Media semai jamur di steralisasi di dalam drum pengukus selama 8 jam, kemudian di dinginkan selama 24 jam. Media semai jamur tiram di inokulasi secara asaptis dengan memasukan jamur sebanyak tidak sendok, kemduan media jamur tiram di tutup dengan kapas dan plastic kecil yang sudah di beri ring. Media semai jamur tiram yang sudah di inokulasi kemudia di inkubasi selama 20-25 hari sengan suhu 22-28˚ C. Jika seluruh permukaan media semai jamur tiram sudah rata ditumbuhi dengan meselium maka di lakukan pemeliharaan di rumah jamur. Panen badan jamur di lakukan 3-4 hari setelah munculnya tunas. Hasil berat panen per media semai jamur tiram 80-90 gr. (Syambayu 2013)

BAB 3
PENUTUP
1.1  Simpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat diambil beberapa simpulan yaitu:

  1. Permasalahan lingkungan yang terjadi di desa Bejiruyung adalah polusi udara.
  2. Penyebab terjadinya permasalahan lingkungan di desa Bejiruyung adalah limbah jerami yang diolah secara dibakar.
  3. Solusi yang pernah dilakukan adalah dengan memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak dan tempat budidaya jamur
1.1  Saran
Sebaiknya limbah jerami dimanfaatkan secara maksimal karena memiliki potensi yang cukup besar, jangan hanya berpikir secara pendek agar limbah jerami cepat hilang sehingga dilakukan berbagai cara yang tidak diperkenakan seperti melakukan pembakaran terhadap limbah jerami yang akhirnya memberi dampak yang tidak baik kepada lingkungan. Polusi udara kemungkinan dapat dikurangi jika tidak dilakukan pembakaran limbah jerami tetapi dengan mengolah jerami tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Haerudin, Hamzah . 2013. budidaya jamur merang. http://kasmur.blogspot.com/2013/02/dasar-pengolahan-media-tanam-jamur.html (diakses tanggal 1 juni 2014)

Polusi / Pencemaran Udara, Dampak dan solusinya. (diakses tanggal 1 juni 2014)

Maspary. 2011. 7 KERUGIAN MEMBAKAR JERAMI PADI. http://www.gerbangpertanian.com/2011/03/7-kerugian-membakar-jerami-padi.html. (diakses tanggal 10 Juni 2014)

Putri, eka. 2014. Pembakaran jerami. http://eka-putri-a.blog.ugm.ac.id/index.php/tag/pembakaran-jerami/. (diakses tanggal 1 juni 2014)

Syambayu. 2013. Media Tumbuh Jamur Tiram Putih : Limbah Jerami Padi. http://syambayu8.blogspot.com/2013/10/permasalahyang-akan-terjadi-bila-media.html. (diakses tanggal 10 Juni 2014)











No comments:

Post a Comment