Thursday, December 10, 2015

sedikit kisah pemira di kampus tercinta

   Dunia politik sebenarnya tidak bisa terlepas dalam keseharian kita, tetapi saat ini kata politik dianggap negatif karena kebanyakan merugikan yang lain. Pandangan itu sebenarnya kurang tepat karena menurut saya pribadi politik adalah usaha untuk mendapatkan sesuatu dengan cara-cara tertentu, nah tergantung kita cara yang akan kita gunakan itu cara yang baik atau cara yang kurang baik. Jadi politik itu tidak bisa terlepas dalam keseharian kita karena kita pasti akan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. 
     Di kampus, politik juga ada, apalagi di dunia organisasi kampus, ketika akan ada demisioner atau reorganisasi suatu lembaga kemahasiswaan biasanya akan muncul euforia yang bisa juga memanas. di Unnes sendiri, sistem lembaga kemahasiswaannya yaitu keluarga mahasiswa, bukan demokrasi mahasiswa. mulai dari yang tertinggi yaitu BEM KM Univ, kemudian BEM Fakultas, kemudian ditingkat jurusan ada Hima atau Himpro. itu yang eksekutifnya. yang legislatif juga sama, mulai dari DPM KM Univ, DPM fakultas, samapi ditingkat jurusan ada BPH atau yang sejenisnya. itu baru sedikit LK yang ada di Unnes, belum lagi yang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Semi Otonom (BSO) dll. Bisa diperkirakan ketika akan terjadi pergantian kepengurusan suasana politik di kampus juga akan semakin menarik, terutama LK yang eksekutif, karena menurut saya itu yang paling berpengaruh di dunia organisasi kampus.
     Suasana pemilihan umum raya (Pemira) di kampus juga seperti suasana pemilu di masyarakat, begitu hangat, dipenuhi bumbu-bumbu kampanye yang akan membuat suasana pemira kampus semakin manis. Saya sendiri pernah mengalaminya sendiri ketika saya mencalonkan diri sebagai Ketua Hima. Hal-hal baru menurut saya, seperti visi-misi, tim sukses, kampanye kreatif, kampanye dialogis, deklarasi, debat calon, grand design, dan masih banyak lainnya yang harus ada dalam suasana kampanye pemilihan... pengalaman yang tak ternilai harganya, dan luar biasa menurut saya.
      Pemira dikampus akan lebih bermakna jika kita mau menyadari bahwa esensi sesungguhnya dari pemira itu sendiri. Bukan hal-hal seperti diatas yang harus dinomorsatukan, tapi lebih kepada kesadaran bahwa politik kampus merupakan latihan untuk diri kita dalam menghadapi dunia nyata di masyarakat nantinya, ambil segala yang positif dan buang jauh-jauh yang negatif. jangan sampai terjadi politik kampus yang sebenarnya merupakan latihan malah menjadi ajang pemecah persatuan antar mahasiswa. 
     Dan yang paling penting juga adalah proses untuk mengedepankan nilai kebermanfaatan bagi kebaikan sesama, itu yang harus dilakukan. ucapan-ucapan manis di masa kampanye harapannya benar-benar diwujudkan. Ketika pada masa latihan ini, sudah berani melanggar janji apalagi ketika di masyarakat nanti, bisa jadi ajang semakin menambah daftar koruptor di Indonesia karena sudah biasa melanggar janji. Ketika yang diutamakan nilai kebermanfaatan ,inshaallah ajang latihan perpolitikan di kampus akan menghasilkan generasi-generasi yang baik, yang akan mampu membawa Indonesia lebih maju kedepannya... amin..
     

No comments:

Post a Comment